Mbak putu ngentot

posted by | Leave a comment

Mbak Lia kurang lebih baru 2 minggu bekerja sebagai atasanku sebagai Accounting Manager.

Sebagai atasan baru, ia sering memanggilku ke ruang kerjanya untuk menjelaskan overbudget yang terjadi pada bulan sebelumnya, atau untuk menjelaskan laporan mingguan yang kubuat. Tapi mungkin karena latar belakang pendidikanku tidak cukup mendukung, management memutuskan merekrutnya.

Bila kedua lututnya rapat kembali, lirikanku berpindah ke betisnya. Sejenak, aku berusaha meredakan debar-debar jantungku. Bibir Mbak Lia masih tetap tersenyum ketika ia lebih merenggangkan kedua lututnya."Theo, kau tahu warna apa yang tersembunyi di pangkal pahaku? Ternyata betisnya yang berwarna gading itu mulus tanpa bulu halus. Mungkinkah mulai dari atas lutut hingga.., hingga.. Karena ingin melihat lebih jelas, kugigit bagian bawah roknya lalu menggerakkan kepalaku ke arah perutnya. Mbak Lia tersenyum nakal sambil mengusap-usap rambutku. Dan ketika hanya berjarak kira-kira selebar telapak tangan dari pangkal pahanya, kecupan-kecupanku berubah menjadi ciuman yang panas dan basah.

" Aku menggeleng lemah, seolah ada kekuatan yang tiba-tiba merampas sendi-sendi di sekujur tubuhku. Telapak tangannya mengusap pipiku beberapa kali, lalu berpindah ke rambutku, dan sedikit menekan kepalaku agar menunduk ke arah kakinya."Ingin tahu warnanya? Tapi di bagian atas lutut kulihat sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus yang agak kehitaman. Ketika melepaskan gigitanku, kudengar tawa tertahan, lalu ujung jari-jari tangan Mbak Lia mengangkat daguku. Lalu telapak tangannya menekan bagian belakang kepalaku sehingga aku menunduk kembali. Tak pernah aku melihat paha semulus dan seindah itu. Sekarang hidungku sangat dekat dengan segitiga yang menutupi pangkal pahanya.

santi merasakan perih di memeknya karena kontol eko di masukkan dengan paksa dan cepat.

lg pula kontol eko lebih besar dah panjan dari pada dildo yang baru di pakai santi.

Aku merasa beruntung bila dipanggil Mbak Lia untuk membahas cash flow keuangan di kursi sofa itu. Dan bila kami terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius, ia tidak menyadari roknya yang agak tersingkap. Aku dapat melirik sebagian kulit paha yang berwarna gading. Tapi ketika menengadah menatap wajahnya, kulihat bola matanya berbinar-binar menunggu jawabanku."Saya suka kaki Mbak. ""Sebuah kehormatan besar untukku," jawabku sambil membungkukan kepala, sengaja sedikit bercanda untuk mencairkan pembicaraan yang kaku itu."Kompensasinya apa? Ia berusaha manahan tawanya."Dan aku yang menentukan di bagian mana saja yang harus kau cium, OK? Matanya berbinar-binar seolah menaburkan sejuta pesona birahi. Terpana mendengar perintahnya."Kau tidak ingin memeriksanya, Theo? Hembusan nafasku ternyata membuat bulu-bulu itu meremang."Indah sekali," kataku sambil mengelus-elus betisnya. Akibat kecupanku, Mbak Lia menurunkan paha kanan dari paha kirinya.

Sangat menarik, tidak besar tetapi jelas bentuknya membongkah, memaksa mata lelaki menerawang untuk mereka-reka keindahannya. Sambil tetap mengelus betisnya, kuluruskan kaki yang menekuk itu.santi mengintip ke ruangan kontrakannya memastikan kalau eko masih tidur.lalu dia berjalan telanjang bulat berjingkat lalu lansung naik ke tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi ketelanjangannya.Segitiga tipis yang hanya selebar kira-kira dua jari itu terlalu kecil untuk menyembunyikan semua bulu yang mengitari pangkal pahanya. Tercium aroma segar yang membuatku menjadi semakin tak berdaya. Tiba-tiba saja Mbak Tia merapatkan kedua pahanya sambil menarik rambutku."Nanti ada yang melihat bayangan kita dari balik kaca. Lalu Mbak Lia tiba-tiba membuka ke dua pahanya dan mendaratkan mulut dan hidungku di pangkal paha itu. Aku menarik nafas untuk menghirup aroma yang sangat menyegarkan. Aku mengulurkan tangan untuk meraba celah basah di antara pahanya. Mbak Lia terkejut sejenak, lalu ia tertawa manja sambil mengusap-usap rambutku."Rupanya kau sudah tidak sabar ya, Theo? Sepasang bibir yang di bagian atasnya dihiasi tonjolan daging pembungkus clit yang berwarna pink. Dan mulai kurasakan kedutan-kedutan di bibir vaginanya, kedutan yang menghisap lidahku, mengundang agar masuk lebih dalam. Kedua bibirku kubenamkan sedalam-dalamnya agar dapat langsung menghisap dari bibir vaginanya yang mungil."Theoo! "Aku tak tahu apakah rintihan Mbak Lia dapat terdengar dari luar ruang kerjanya.Bahkan sempat kulirik bayangan lipatan bibir di balik segitiga tipis itu."Suka? Aroma yang memaksaku terperangkap di antara kedua belah paha Mbak Lia. Masuk ke dalam, Theo," katanya sambil menunjuk kolong mejanya. Mbak Tia merenggut bagian belakang kepalaku, dan menariknya perlahan. Kebasahan yang terselip di antara kedua bibir kewanitaan terlihat semakin jelas. Aroma yang sedikit seperti daun pandan tetapi mampu membius saraf-saraf di rongga kepala."Suka Theo? " katanya sambil melingkarkan pahanya di leherku."Hm..! Aku termangu menatap keindahan yang terpampang persis di depan mataku."Jangan diam saja. " kata Mbak Lia sambil menekan bagian belakang kepalaku."Hirup aromanya! Beberapa detik kemudian, lendir mulai terasa di ujung lidahku. Seandainya rintihan itu terdengar pun, aku tak peduli.

Leave a Reply

Free chat raw sex